Sabtu, 08 Desember 2012

LAGI, BBM LANGKA!



Persoalan  distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tak kunjung surut. Kelangkaan atau keterbatasan pasokan terjadi silih berganti di sejumlah daerah termasuk kota Baturaja yang terus berlangsung. hampir seluruh SPBU di Kota Baturaja, kabupaten Ogan Komering Ulu dalam beberapa pekan terakhir kekurangan stok BBM jenis premium. Akibatnya, masyarakat  setiap hari harus antri mendapatkan BBM. Belum diketahui secara pasti, penyebab kelangkaan pemium, namun diperkirakan hal ini  disebabkan karena  keterlambatan pasokan.
Antrean kendaraan bermotor di SPBU akibat kelangkaan bahan bakar sepertinya masih sulit diatasi. Kritikan pun ditujukan kepada pemerintah yang dinilai tidak tegas dalam menentukan kebijakan BBM bersubsidi. Beginilah kondisi setiap hari yang dialami warga Kota Baturaja dan sekitarnya di setiap SPBU.
Mereka berduyun-duyun datang dan antrian berjam-jam jika suatu SPBU telah tersedia atau telah mendapat pasokan premium dan solar. Masyarakat  terus berdatangan untuk mengantri dan mendapatkan premium dari pagi hingga sore. Kondisi ini menyusul kelangkaan BBM jenis premium hampir diseluruh SPBU yang ada.
Salah satu yang paling merasakan kerugian akibat Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium yang melanda kota Baturaja dalam beberapa hari belakangan ini adalah sopir angkutan umum.
Dari penuturan beberapa Sopir angkutan umum yang sedang mengantri BBM di SPBU kemelak, didapati satu kesamaan dari penuturan mereka, yaitu menurunnya  pendapatan harian mereka.
Salah satu sopir angkot mengeluhkan antrian yang panjang , bahkan ia harus menunggu hinggga 1 jam untuk mendapatkan BBM jenis premium. Jika dilihat dari hal tersebut begitu banyak kerugian yang dirasakan oleh sopir angkutan umum.
Mereka tidak hanya kehilangan pendapatan, tetapi mereka rugi waktu, karena waktu digunakan mereka untuk mengantri BBM. Itupun jika nasib mereka beruntung. Terkadang mereka sudah mengantri BBM  selama berjam-jam, tetapi  ketika sampai pada gilirannya, ternyata BBM telah habis.
Antrean kendaraan roda dua maupun  empat yang akan mengisi BBM pada kendaraan mereka, baik jenis premium maupun solar semakin panjang. Bahkan ada warga yang harus antri lebih dulu dengan memarkirkan kendaraannya di jalan masuk ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sejak dini hari.
Terpantau sejak beberapa minggu terakhir terlihat antrian di pagi hari baik SPBU kemelak maupun UB, diserbu oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Karena banyaknya kendaraaan yang antri , terlihat kendaraan dari arah kemelak bertemu dengan kendaraan yang mengantri BBM dari arah SPBU UB.
Kesulitan yang dirasakan warga dalam memperoleh BBM khususnya  mereka yang tidak memiliki waktu untuk mengantri terpaksa harus mengeluarkan uang lebih karena harus membeli premium dan solar di kios yang banyak ditemukan di sepanjang jalan protokol kota Baturaja.
Pengamatan di lapangan, para pengecer minyak banyak bermunculan di sekitar SPBU. Mereka memanfaatkan para pengantrI yang frustasi dan ingin segera mendapatkan BBM tanpa harus berjam-jam menunggu antrean.
salah satu penyebab kelangkaan BBM karena diduga stok dibatasi dari pusat. Bahkan hingga  50%. Terlihat di setiap SPBU kepadatan kendaraan seperti biasanya di SPBU milik UB.  Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di hampir seluruh wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) Ironisnya, saat masyarakat kesulitan mendapatkan BBM, pengecer minyak justru bertambah banyak. Harga yang ditawarkan pun beraneka ragam mulai dai Rp5000 hingga Rp7000.
Kelangkaan BBM ini selain mengakibatkan antrian yang panjang di SPBU di kota baturaja, namun berdampak pula pada usaha masyarakat. Kelangkaan BBM yang terjadi saat ini bersamaan dengan kenaikan harga-harga sembako. Sehingga hal ini semakin menambah beban masyarakat.
Hal ini tentu harus diperhatikan pemerintah kita tentang bagaimana cara mengatasi kelangkaan BBM ini. Jika kelangkaan ini terus terjadi maka kesengsaraan masyarakat akan terus bergulir. karena ini berpengaruh pada aktivitas masyarakat yang dikhawatikan akan terganggu.
Masyarakat juga berharap kepada pemerintah yang berwenang untuk memperhatikan dan mengawasi BBM agar  benar-benar sampai kepada masyarakat, dan mengantisipasi penimbunan oleh pihak-pihak tertentu.


Oleh: Ema Fitrina A.5.1
Universitas Baturaja Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar